oleh

Syachrial Damopolii Kecam Penyerangan Karyawan PT. BDL Kepada Masyarakat Toruakat

BOLMONG – Tabloidjejak.co.id. Peristiwa peperangan local antara masyarakat desa Toruakat Dumoga dengan karyawan PT. BDL -yang disediakan senjata tajam oleh diduga petinggi perusahaan tersebut-,  dilokasi perkebunan Bolingongot, mendapat kecaman keras dari mantann ketua DPRP Prov. Sulut, Drs. Syakchrial Damopolii.

Menurut Drs. Syakchrial Damopoli, perilaku ala preman yang apalagi disediakan senjata tajam oleh PT. BDL kepada karyawannya, patut dilakukan pengusutan secara serius oleh aparat Kepolisian Daerah Sulawesi Utara, karena telah memakan korban warga Toruakat hingga meninggal.

Kecaman keras Syakchrial ini, disertai dengan ketegasan sikapnya yang mennyatakan bahwa dia menduga, bahwa oknum yang telah menyebabkan kehilangan nyawa warga Toruakat, adalah oknum “preman bayaran” dari perusahaan PT BDL.

Syakchrial menegaskan dirinya akan mengawal kasus ini hingga tuntas, dan meminta aparat kepolisian agar dapat mengusut tuntas siapapun yang terlibat pada peristiwa penyerangan tersebut kepada masyarakat hingga menewaskan salah satu warga desa Toruakat  Kec. Dumoga, Arman Damapolii (37 tahun) di lokasi perkebunan Bolingongot.

“Kami akan mengawasi penanganan kasus ini agar kemudian diharapkan dapat diusut secara tuntas siapa aktor utama yang menciptakan komflik di lokasi perkebunan itu,” ujar Syachrial. Karena menurutnya, dengan adanya keterlibatan oknum “preman bayaran”di lokasi, maka terindikasi kuat management konflik ini ada yang mendesign dan sengaja diciptakan.

Terkait dengan kegiatan di lokasi tambang yang kini menjadi ajang peperangan lokal, menurut tokoh BMR Syakchrial Damapolii, bagi perusahaan PT. BDL, sudah sejak tahun 2019, atas izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH)nya, sudah habis. “Artinya, tidak boleh lagi ada kegiatan yang dilakukan PT. BDL dilokasi tersebut,” ujar Saychrial.

“Selama ini, setelah izin pijam pakai PT. BDL sudah berakhir, yang kami dengar dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga LSM serta pemerhati hutan dan lingkungan, yang masuk dan bahkan menemui saya, bahwa aktivitas kegiatan penambangan PT. BDL masih terus berjalan,” ujarnya.

Nah disinilah kelalaian pihak instansi terkait termasuk aparat hukum lainnya, mengapa kegiatan illegal tersebut dibiarkan. “Harusnya ini, tidak perlu dibiarkan dan sepantasnya, aparat penegak hukum segera menindak dan menghentikan kegiatan itu, karena perusahaan tersebut tidperusahaan tersebut tidak lagi memiliki IPPKH,” tandas Syachrial.

Syachrial, pun berharap agar otopsi korban yang tertembak pada Senin (27/09/2021), bisa segera dipublis oleh pihak kepolisian. “Syachrial meminta Pak Kapolda Sulut, bisa segera membuka hasil otopsi korban, agar diketahui peluru yang menembus dada korban itu dari senjata milik siapa, kaliber apa, dan apakah senjata itu berasal dari oknum yang terlibat pada konflik atau aparat hukum lainnya,” tandas Syachrial Damapolii.

Namun secara terpisah Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol. Jules Abraham Abas, ketika dikonfirmasi Minggu (3/10/2021), menjawab pertanyaan wartawan, bahwa hasil otopsi belum dikantongi oleh kepolisian, karena semuanya tergantung dari pihak dokternya.

Karenanya, menurut Kabid humas Polda Sulut, dalam keterangannya, menambahkan, nanti tunggu hasil proses penyelidikan. Dan saat ini, pihak Polda Sulut bersama pihak Polres Bolmong dan Polres Kotamobagu, sedang memintai keterangan kepada berbagai pihak,” ungkap Kombes Jules Abraham Abas.

Peliput : Ronal Bido

Editor : Henry

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed