oleh

Siapa Pembohong Lakukan Land Clearing, BPJN XV atau Perkimtan Sulut

MANADO – Tabloidjejak.co.id. Sebagaimana pemberitaan Sindomanado.com setahun yang lampau tentang pembangunan jalan layang (fly over) yang menghubungkan Boulevard II dengan Wilayah Molas Kota Manado, ternyata persoalan tanahnya hingga kini belum tuntas.

Padahal pada pemberitaan Sindomanado.com ketika itu, menurut Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Prov. Sulut, Jumat (27/11/2020), pembayaran tanahnya telah tuntas. Penegasan Steve Kepel bahwa proses pembayaran pengadaan tanah proyek Jl. Boulevard II sudah terbayarkan.       

Menurut Steve Kepel, pembayaran pengadaan tanah dengan luasan 14.029 M2 total sebesar Rp. 7.63 Miliar. Dimana kepada Sindomanado.com, Steve menegaskan pembebasan lahan menjadi kewenangan mereka, yang pembayarannya sudah dibayarkan kesetiap pemilik lahan.   

Selanjutnya, pihak Dinas Perkimtan Prov. Sulut melakukan land clearing yang merupakan proses pembersihan sebelum pekerjaan fisik dilakukan pada bulan Maret 2020, dengan maksud agar tidak ada gangguan.

Namun anehnya, lain penjelasan Steve Kepel tentang land clearing, justru yang melakukan land clearing adalah pengawas proyek saudara Kelly Pangerapan dari BPJN XV Sulut dan “bukan dari Perkimtan,” mengakui kepada Babe Asnat Baginda saat ditanyakan siap yang telah merusak makam keluarganya. “Saat membersihkan lahan, dia melihat makam dan saya tidak menyentuhnya,” ujar Kelly.

“Melihat adanya makam, pihaknya langsung melakukan konfirmasi dengan pihak Perkimtan,” ujarnya. Usai memperoleh informasi dari pengawas BPJN XV Sulut, Asnat lantas melakukan keberatan kepada pihak Dinas Perkimtan Prov. Sulut dan diterima langsung oleh Kadis Steve Kepel pada tanggal 7 juli 2020.     

Mulai saat itu, pihak Pemerintah Kelurahan Molas lantas mencari Keluarga pemilik makam untuk rencana pemindahan makam yang sempat dirusak oleh BPJN XV Sulut saat melakukan land clearing. Kemudian oleh pala yang menginformasikan ke Lurah yang telah bertemu dengan pemilik makam, dan dilanjutkan dengan pertemuan antara Lurah Ferry Salindeho dengan Asnat Baginda ahli waris Keluarga Hasannurdin Djamdjam Noerakib alm sang pejuang Kemerdekaan dari Ternate yang dibuang Belanda ke Manado pada tanggal 3 September 2020.

Sayangnya tindaklajut hasil pertemuan sebanyak 2 kali tersebut, tidak dibarengi secara serius oleh pihak pembebasan lahan, langsung melakukan pembongkaran makam untuk kali kedua (2) disertai pemindahan tulang belulang yang dimasukan kepeti mati dengan proses Kristen atas makam Islan milik leluhur Keluarga Hasannurdin Djamdjam Noerakib, tanpa pemberitahuan dan seizin keluarga pemilik makam.

Atas kejadian pembongkaran yang terjadi sebanyak dua kali disertai dengan pengambilan tulang-belulang Keluarga leluhur Hasannurdin Djamdjam Noerakib, pihak ahli waris Asnat Baginda lantas melaporkan ke Polresta Kota Manado, setelah disarankan pihak Polda Sulut ketika sasaran pelaporan awalnya ke Polda Sulut.     

Tim

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed