oleh

Sekitar 3 Tahun Laporan Penyimpangan Proyek Pagar Sekolah Pelayaran Belum Ada Kabar

Amurang – Tabloidjejak.co.id. Terkait pembangunan Sekolah Pelayaran yang kini berubah menjadi Politeknik Pelayaran Sulawesi Utara, sejak pembangunannya mulai dilaksanakan ditahun 2012, ternyata menyimpan banyak masalah yang kuat dugaan dilakukan oleh orang-orang Kemeterian Perhubungan Dirjend Perhubungan Laut.

Mulai dari penempatan bangunan diatas lahan yang tidak sesuai kesepakatan pembebasan lahan, penambahan atau pengambilahan lahan secara sewenang-wenang oleh pihak pemilik proyek : Kementerian Perhubungan RI dalam hal ini Dirjen perhubungan laut, hingga dengan pembangunan pagar yang tidak sesuai spek, termasuk meninggalkan beban hutang.

Terkait dengan pembangunan pagar yang diduga dikerjakan tidak sesuai spek, dimana dari kedalaman galian fondasi sekitar 4 meter, yang seharusnya dilakukan susunan batu dengan lekatan spesi untuk mengikat batu sebagai fondasi pagar. Namun ternyata galian sedalam sekitar 4 meter tersebut hanya diberi/ diisi dengan batu, tanpa pasir dan semen.

Dimana luasan lahan sekitar 22 hektar lebih yang sekelilingnya didirikan pagar setinggi sekitar 4 meter atau secara keseluruhan sekitar 8 meter sudah termasuk fondasi, susunan batunya hanya diberi spesi yaitu campuran semen pasir, dilakukan pada saat berada dipermukaan tanah (batas tanah). Sehingga menurut Jouke Balla, salah satu mandor bas yang mengerjakan proyek tersebut, kondisi pagar yang demikian akan mudah roboh.

Menurut Jouke Balla, bahwa yang mengerjakan tembok pagar tersebut, ada 3 pemborong kecil, “yang salah satunya saya kerjakan,” tandas Jouke kepada tabloidjejak. Saya mengerjakan pagar dari subkon Lian Mandey mantan Hukum Tua Tawaang (kini anggota dewan Kab. Minsel). “Dan pekerjaan saya itu, hingga kini ada yang bekum dibayar saudara Lian Mandey,” jelasnya lebih lanjut.

Kepada Tabloidjejak.co.id, Jouke menjelaskan, sebenarnya dia sudah memberitahukan kepada subkon tentang pekerjaan yang tidak sesuai spek tersebut, namun dia hanya terus diminta kerjakan sesuai perintah. Tapi sebenarnya, sesuai gambar, seharusnya dari bawah tanah harus sudah diberi semen.

Menurut Jouke, semua yang mengerjakan proyek pagar tersebut melakukan hal yang sama. Dimana susunan batu dibawah tanah tidak diberi semen. Nanti diatas tanah baru diberi semen. Dan penyimpangan yang kuat dugaan telah merugikan keuangan Negara tersebut, telah dia laporkan di polres minsel, sekitar tahun 2016 atau tahun 2017.

Dalam laporannya kepada Kepolisian Resort Minahasa Selatan, dia dan beberapa orang pekerja pada proyek pembangunan pagar Sekolah Pelayaran (kini Politeknik Pelayaran Sulawesi Utara) sudah dimintai keterangan. “Kami semua sudah di BAP,” tegasnya. Namun anehnya, hingga kini laporannya, belum ditindaklanjuti. “Ini yang saya sangat sesalkan. Entah hukum kita di Indonesia seperti ini,” keluhnya penuh prihatin.**         

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed