oleh

Proyek Jalan Sapa – Pakuure dikerjakan Lewat Waktu dan Asal-asalan

MINSEL – Tabloidjejak.Co.id. Ditahun 2018 tepatnya sekitar Medio Januari ditemukan kegiatan pengerjaan proyek jalan Sapa – Pakuure berbandrol Rp. 8.278.200.000,- Padahal, proyek tersebut merupakan kegiatan yang harus dikerjakan tahun 2017, sesuai dengan kontraknya tertanggal 5 Juni 2017.

Proyek yang sudah habis tahun pengerjaannya untuk tahun anggaran 2017, masih saja dikerjakan pada tahun anggaran 2018, yang sudah lewat waktu. Dimana kontrak kerjanya bernomor : 08/Kontrak/PPK-BMPUPR/VI/2017.

Proyek yang dikerjakan oleh PT. Kemilau Nur Sian ini, kini menuai masalah dalam pembahasan Laporan Kerja pertanggunjawaban APBD tahun 2019, karena dilakukan penambahan anggaran yang diduga membuat ulah bermasalah bermasalah lagi.

Proyek Sapa – Pakuure yang merupakan pekerjaan peningkatan struktur ruas jalan tersebut, tidak jelas volume pengerjaannya, karena tidak tertulis pada papan proyeknya. Demikian pula, proyek tersebut tidak dijelaskan, apakah tertata dalam APBD tahun anggaran 2017 atau tidak.

Proyek ini sesuai kontrak kerjanya, terhitung mulai dikerjakan sepatutnya dimulai bulan Juni 2017 sesuai kalender kerja selama 180 hari dari harus berakhir di bulan Desember 2017, namun baru dikerjakan pada medio bulan Januari 2018 dan dimulai dari Pakuure sebagai titik berakhirnya pekerjaan yang jelas sekali telah terjadi secara lain.

Proyek yang masa pemeliharaan selama 365 hari, terhitung sejak bulan Januari 2018 ini, berakhir hingga januari tahun 2019. Proyek ini ketika itu, tidak memiliki direksikit, dengan kelengkapan gambar proyek jalan.  

Demikian pula, proyek ini, tidak ditemukan adanya Konsultan proyek, sebagaimana petunjuk tehnis pekerjaan atas proyek bernilai 1 M keatas harus menggunakan jasa Konsultan. Akibatnya, proyek tampa Konsultan ini, kerja seenaknya main bongkar jalan yang yang telah dibangun rakyat dengan system Telford dengan pola baru tanpa penuntun jelas.

Pekerjaan yang terkesan buru-buru karena mengejar waktu dengan main bongkar sana sini, membuat jalan makin rusak dan buruk, walau telah diaspal hotmix, karena sifat tanah yang labil kembali labil akibat pembongkar batu-batu yang telah disusun rakyat.

Akibatnya, badan jalan bergelombang seperti gunung-gunung dan kuala kecil sejak mulai dikerjakan kearah lokasi Pakuure I. Demikian pula sepanjang jalan tidak terlihat adanya bahu jalan, apalagi drainase, sehingga resiko jalan yang tanpa perencanaan ini akan makin hancur.

Struktur lapisan jalan nampak tidak jelas batas antara lapisan satu dengan lapisan lainnya secara tegas, antara lapisan pondasi bawah dengan lapisan pondasi atas. Dimana kian buruk lagi, walau sudah diaspal Hotmix, masih saja lumpur keluar dari badan jalan yang telah diaspal, karena tipisnya LPB maupun LPA yang tidak lebih dari 20 Cm, dihampar atas jalan berlumpur yang kembali labil karena pembongkaran batuan pada badan jalan yang sudah dbangun rakyat.  

Sepanjang jalan mulai dari jembatan Pakuure Induk hingga jembatan Pakuure I, ketika itu, rusak dan pecah-pecah saat dalam pengerjaan dibadan jalan yang lain. Dimana kuat dugaan akibat lapisan yang tidak jelas batasnya serta tipisnya lapisan LPB maupun LPAnya.

Jalan yang dikerjakan tanpa metode yang jelas dan tidak sesuai prosedur yang benar dan terkesan dikerjakan asal-asalan itu, kini mengundang maslah ditahun anggaran 2019, karena ditemukan sejumlah keganjilan oleh Pansus Dewan tahun 2020.

Kualitas jalan berbandrol mega proyek ini, ternyata juga tidak memenuhi standar pembuatan jalan nasional. Padahal sumber pembiayaannnya, konon dari DAK dengan jalan pengerjakan ketika itu, hanya sejauh 3200 Km. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed