oleh

Periksa Kontraktor Yang Memanipulasi Material Batu.

Amurang – Tabloidjejak.co.id. Mega Proyek jalan Kecamatan di Kab. Minahasa Selatan yang menghubungi antara 3 desa di Kecamatan Amurang Barat yaitu dari Rumoong Bawah – Elusan – Tewasen, terbilang woouw. Betapa tidak proyek Kecamatan bisa berbandrol 21 Miliar lebih.

Tentunya mengundang kekaguman dan tanya berbagai pihak. Betapa tidak, jalan hanya setingkat Kecamatan bisa berbeban nilai yang sangat fantastis. Jalan yang konon akan dikerjakan sekitar 8 Km, ini harus dikerjakan bersegmen-segmen yang dimenangkan oleh Perusahaan yang sama, walau pekerjaannya sangat buruk.

Proyek berbandrol 21 M ini, dimenangkan oleh PT. Kemilau Nur Sian dengan tawaran senilai Rp 19.740.031.838.00 dengan No. Kontrak : : 07/SPK/PPK/PJRB KET/APBD/VI/2019. Sementara tanggal kontrak : 12 Juni tahun 2019, dengan masa waktu pelaksanaan 180 hari kerja.

Proyek peningkatan ruas jalan Rumoong Bawah – Elusan – Tewasen yang bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) yang tertata pada APBD Provinsi tahun anggaran 2019 ini, merupakan program yang dicetuskan dari instansi Dinas PUPR Prov. Sulut, sebelumnya ditahun anggaran 2018, begitu istimewa dari jalan rintisan pedesaan bernilai miliaran ini, langsung peningkatan berkualitas aspal beton sebagai jalan Provinsi.

Pelaksanan PT. Kemilau Nur Sian kepada wartawan menyatakan bahwa panjang jalan yang dikerjakan sepanjang 3 Km, “dengan nilai sekitar 19 M lebih, dengan ketebalan aspal beton 10 cm yang berlapis dua masing-masing lapisan penutup AC WC 4 cm dan lapisan AC BC setebal 6 cm, ” terangnya.

Sementara menurut pelaksana, material batuan merupakan batu giling full. Namun sumber masyarakat desa yang bersua dilokasi proyek kepada  wartawan menyatakan, bahwa material merupakan material campuran yang berasal dari sungai kering Tombatu dan Motoling yang mengandung anyak pasir dan tanah dicampur dengan batu giling asal Minahasa Tateli dan dicampur dilokasi yang mereka beli seharga 25 juta rupiah.

Oplosan batu ini, diduga untuk menghindari pajak PPH dan PPN yang dibebankan bagi pengusaha tambang batu dan logam berizin. Akibat perbuatan perusahaan pelaksana proyek, diduga buruknya kualitas batu inilah yang menyebabkan kerusakan jalan terjadi cepat tidak lebih dari 2 tahun atau dapat menghindar masa pemeliharaan yang hanya 1 tahun.

Kualitas jalan yang menggunakan material batu oplosan yang banyak mengandung tanah ini, rentan membuat jalan menurun membentuk cekungan, akibat terjadinya rongga yang merupakan ekses dari tanah yang terseret air kelapisan bawah yang meresap dari permukaan jalan.       

Rongga jalan yang tercipta ini bukan saja menyebabkan terjadinya cekungan jalan, namun menciptakan gesekan yang bebas antara material batu yang satu dengan material batu lainnya, hingga menyebabkan jalan menjadi cepat hancur dan berantakan.  

Sudah kualitasnya jalan yang buruk akibat material batu yang buruk, harga material batu oplosan ini menjadi murah karena kontraktor melakukan perbuatan curang untuk menghindari beban PPH dan beban PPN. Sementara Negara harus membayar nilai material sesuai kontrak berupa batu berasal dari tambang berizin yang lebih mahal. Artinya, terjadi kelebihan pembayaran oleh Negara atas material batu yang dimanipulasi hingga menjadi murah. Atas perbuatan curang ini, menurut Elvis, sepatutnya kontraktornya diperiksa. “Periksa kontraktornya,” tandasnya tegas.

Temuan khusus Kelompok Study untuk Riset dan Diskusi dari Tabloidjejak.co.id, sebenarnya menemukan kejanggalan kerja yang cukup banyak dan tidak sesuai specifikasi kerja atas item kerja tertentu. Masih banyak bentuk perbuatan curang yang diduga dilakukan kontraktor. “Namun saat ini masih dalam pendalaman lebih lanjut,” urai salah satu anggota KS. Tim***    

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed