oleh

Pencurian HP, Hard Disk, SK dan Uang di Ruang Tunggu Bupati Buat Heboh Jagad Bolmong Raya

BOLMONG – Tabloidjejak.co.id. Heboh pencurian sejumlah barang dan uang milik Toni Monoarfa dan Kaban Bappeda diruangan TUP Kantor Bupati Pemerintahan Kab. Bolaang Mongondow, beberapa waktu lalu, kini akan berlanjut kerana hukum untuk dilaporkan ke Polda Sulut, setelah upaya permintaan tanggungjawab secara pribadi tak direspon pihak Kaban TUP Kantor Bupati Bolmong.

Penjelasan ini diungkapkan pengacara Toni melalui Hp 081340774xxx  serta uraian kronologis melalui WA terkait pencurian Laptop, Hard disk, SK dan Hand Phone milik Toni, sebagaimana penjelasan dari kliennya tersebut ke Redaksi Tabloidjejak.co.id jam 22 Wita Senin (25/10/2021). 

Dalam penjelasan Toni Monoarfa sebagaimana uraian kronologis pengacara Safrizal Walahe, SH., MH kepada redaksi Tabloidjejak.co.id yang diterima langsung Pemimpin Redaksi Ir. Henry Peuru, bahwa Toni dan ketua Bappeda dipanggil untuk menghadap Bupati diruang kerjanya beberapa waktu lalu, dengan meminta agar membawa laptop dan SK.

Waktu dimintakan agar menghadap Bupati, tepatnya : Pukul 09.00 Toni sudah berada di Kantor Bappeda, sambil menunggu petunjuk Kabag TUP, jelas kronologis yang disampaikan Toni kepada pengacaranya.  Selanjutnya pergi keruang rapat duduk bersama Kaban Bappeda, Kabid Sucipto dan Kabid Yunus.

Tepatnya pukul 10.45 Wita, kemudian menerima petunjuk dari Kabag TUP agar segera menuju Kantor Bupati. Selanjutnya, Kaban Bappeda berulang kali memberitahu kepada Toni agar jangan lupa membawa Laptop.

Saat beranjak keruang Bupati, dalam hati kecil Toni berkata bahwa untuk apa membawa Laptop keruangan Bupati, karena pengalaman Toni selama ini bahwa setiap rapat terbatas dengan Bupati tidak pernah membawa Laptop di dalam ruang Bupati urai pengacara dalam kronologisnya.

Sesampainya di Lantai III Kantor Bupati beberapa peserta rapat terbatas terundang tersebut, langsung diarahkan oleh Kabag TUP untuk segera masuk ruangan, dan diruang tunggu sekali lagi Pak Kaban Bappeda mengatakan kepada Toni, agar jangan lupa bawa Laptop.

Selanjutnya, saat akan masuk keruangan Bupati, ternyata para terundang digeledah oleh Sekretaris Satpol PP Sdri. LINDA LAHAMESANG disaksikan langsung oleh Ajudan Bupati. Dimana penggeledahan atas barang berupa HP, SK, Laptop dan Hard Disk, kemudian dimintakan agar ditinggalkan diluar. Kenyataan ini, menimbulkan keheranan Toni, kok diminta bawa Lap Top, tapi kemudian diperintahkan agar ditinggalkan ?.

Atas semua barang yang digeledah tersebut, kemudian diletakkan di keranjang yang sudah disediakan yang saat itu terdapat empat (4) keranjang yang diletakkan diatas meja. Dimana barang Pak Kaban Bappeda (HP dan sebuah tas selempang) diletakkan di keranjang satu (1) berada paling ujung sebelah kiri, selanjutnya barangnya Kadis Remon (HP) di keranjang kedua (2), barangnya Kabid Sucipto (HP dan Laptop) di keranjang ketiga (3), dan barangnya Toni berupa HP, Hard Disk, SK dan Laptop di keranjang terakhir paling ujung sebelah kanan.

Namun sebagaimana kronologis yang dikirim, adanya uraian yang menceritakan keanehan yang dilakukan Kaban Bappeda yang memaksa Toni agar barangnya disatukan dengan keranjang yang berisi barang Kaban. Padahal Toni sudah menolak untuk disatukan, namun tetap dipaksa, yang dengan terpaksa Toni harus mengikuti kemauan Kaban.

Usai penggeledahan dan peletakkan barang-barang kedalam keranjang, para terundang dimintakan masuk keruangan Bupati, dimana Bupati sudah menerima kedatangan para terundang. Setelah basa-basi sekitar 5 menit, tiba-tiba Kaban Bappeda berdiri dan tanpa permisi kepada Ibu Bupati langsung keluar lewat pintu samping akses menuju ruangan Rapat dan tembus ke ruangannya Kabag TUP.

Lima (5) menit kemudian Kaban Bappeda masuk kembali melanjutkan rapat dengan Ibu Bupati. Inti dari rapat tersebut adalah membahas rencana kegiatan yang konon akan dilaksanakan oleh Dinas Pertanian melalui APBD-P yang konon akan segera di laksanakan. Kemudian sesuai petunjuk beliau kepada Kadis Remon agar segera membuat rinciannya bersama Toni selaku Kasubag Program, yang hasilnya segera dilaporkan dan dibawa ke Rumah Ibu Bupati di Kelurahan Matali pada malamnya.

Namun menimbulkan keanehan bagi Toni, ternyata sampai saat ini, petunjuk agar membuat rincian kegiatan, Kadis Remon tidak pernah memerintahkan Toni agar segera membuat Rincian kegiatan tersebut. Artinya, rapat tersebut tidak jelas untuk dan tujuan apa, piker Toni.

Usai rapat pembahasan, para terundang keluar ruangan dan didapati barang milik Toni yang merupakan klien pengacara Safrizal barang dari Kaban Bappeda yang berada di keranjang nomor satu ternyata sudah hilang, sementara barang Kadis Remon dan Kabid Tito, anehnya masih tetap berada dikeranjang yang mereka letakkannya.

Atas kehilangan barang tersebut, Toni kemudian mengajukan protes kepada Kabag TUP atas kehilangan sejumlah barang miliknya yang merupakan tanggungjawabnya. Sambil menyatakan, bahwa sangat mustahil barangnya bisa hilang, sementara barang peserta lainnya tidak hilang. Apalagi tempat tersebut diyakininya sangat aman, karena setiap yang masuk selalu digeledah.

Keributan yang sempat menimbulkan kegaduhan diruang tunggu tempat penyimpanan barang-barang yang diminta dititipkan tersebut, sempat dibuat tenang oleh Kaban Bappeda dengan meminta agar kejadian tersebut, tidak diketahui Ibu Bupati.

Komplain yang dilakukan Toni tersebut, terus berlangsung hingga beberapa hari ini, dengan meminta agar barang-barang tersebut segera ditemukan dan dikembalikan oleh Kabag TUP Bupati, yang saat ini telah menduduki jabatan sebagai Kabag Keuangan, namun respon Kabag TUP yang kini Kaban Keuangan, justru hanya menjawab akan mengganti Lap Top yang hilang tersebut.

Atas kronologis yang diduga melibatkan dan menjadi tanggungjawab Kabag TUP yang saat ini sebagai Kaban  Keuangan Pemda Bolmong, saat dikonfirmasi melalui kontak HP 085240988xxx, dari seberang terdengar nada sambung -sebanyak 2 kali-, namun tak ada jawaban. Demikian pula pesan konfirmasi yang dikirim melalui WA Kaban Keuangan terkait pencurian diruang TUP, juga tidak memperoleh jawaban.

Pengacara Toni Monoarfa, Safrizal Walahe, SH.,MH., kepada Tabloidjejak.co.id menyatakan bahwa besok Selasa (26/10/2021) pihaknya bersama kliennya akan melaporkan kasus pencurian ini ke Polda Sulut. Sebab menurut Safrizal, bahwa dalam lap top dan hard disk tersebut banyak data-data tertentu dan pribadi serta keluarganya yang bersifat sangat privacy tersimpan didalamnya.

“Disamping persoalan privacy dari Toni, namun yang paling penting, adalah persoalan jaminan rasa aman dalam bekerja, serta jaminan rasa keadilan kliennya, benar-benar harus dipenuhi oleh berbagai pihak, baik oleh Kabag TUP –kini Kaban Keuangan- maupun pihak penegak hukum,” tandas Safrizal pengacara Toni.   

Sementara aktivis Bolmong Raya yang menyampaikan tentang kasus yang menimpa Toni Monoarfa kepada Tabloidjejak.co.id, kemudian mengkomunikasikan langsung dengan pengacara Toni, menduga bahwa kejadian ini merupakan konspirasi untuk menghilangkan data tertentu yang dimiliki Toni terkait orang nomor 1 Bolmong.

Dimana data berupa flas disk transeferan tersebut, yang kini berada ditangan aktivis Bolmong Raya bung Fadli Zon yang dikenal sangat vokal menyuarakan kepentingan rakyat, menegaskan, akan ikut mengawasi proses hukum yang sedang diupayakan pengacara beken Bolmong Raya untuk mencari keadilan bagi Toni Monoarfa.    

***

Foto : SatuBMR.com

Pemred/ Editor : Henry Peuru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed