oleh

Oknum Pemdes Ranoketang Atas VBK Ancam Seorang Ibu Warga Desanya

MITRA – Tabloidjejak.co.id. Seorang oknum Pemerintah Desa Ranoketang Atas berinisial VBK, mendatangi seorang ibu bernama Katrin warga desanya, datang menagih pajak secara paksa dan mengeluarkan ancaman dengan mengatakan, “jadi ngoni nimau bayar, nanti baku dapa no torang,” ancamnya, sambil keluar dari rumah ibu tersebut.      

Kejadian penagihan pajak dibarengi ancaman oleh oknum VBK tersebut, terjadi dirumah ibu KK Senin (21/9-2020), dimana menurut KK kepada wartawan tabloidjejak.co.id di Desa Ranoketang Atas sekitar jam 08 Wita pagi, oknum VBK mendatangi ibu tersebut, tanpa permisi mengucapkan selamat pagi, langsung menerobos rumah dengaan meminta bayar pajak.

Entah pajak apa dan untuk apa, memaksa agar ibu tersebut membayar pajak. Namun mungkin karena kekasaran oknum VBK tersebut, ibu tersebut menyatakan tidak akan membayar pajak. Hal tersebut, dijelaskan ibu tersebut, karena ketika itu, Hukum Tua menyatakan dalam janji politik saat mencalonkan diri menjadi Hukum Tua, akan membebaskan warganya untuk membayar pajak.

Rena tidak membayar pajak 6 tahun, oknum VBK tidak mau peduli, sambil memberi penegasan apakah ngoni memilih Hukum Tua, serta alasan, bahwa ngoni kan dapat BLT. BLT itu dari pajak, jadi harus bayar pajak.

Sehari setelah kejadian tersebut atau tepatnya Selasa (22/9-2020), oknum Pemdes VBK melaporkan Ibu Khatrin sebagai telah melakukan pencemaran nama baik ke Polsek Toluaan. Namun menurut Polsek yang dihubungi via Hp oleh wartawan Tabloidjejak.co.id, mereka tidak bisa menerima laporan tersebut, karena tidak bisa diselesaikan, hingga ketingkat Polres. Dan hanya bisa ditangani Polda.  

Mungkin karena pihak Polsek tidak mau melayani laporan tersebut, Pemdes Ranoketang Atas, lantas melayangkan surat panggilan bernomor : 145/SPKM/RA/IX/2020, yang ditujukan kepada Khatrin Kosegeran, bertanggal 22 September 2020, yang ditanda tangani oleh Hukum Tua JEFRI N. KOSEGERAN.

Ibu Khatrin yang merasa sebagai warga yang sadar dan taat hukum tersebut, kemudian mendatangi Kantor desa pada sekitar jam 08.00 Wita malam. Namun terkait undangan klarifikasi tersebut, justru terjadi keributan karena ibu tersebut dipaksa membuat pernyataan permintaan maaf. Karena merasa benar apa yang dia lakukan, ibu tersebut tidak mau meminta maaf.

Karena ibu tersebut terus bertahan tidak mau membuat pernyataan walau dikerubut oleh sejumlah aparat desa yang marah, menekan dan mengancam, akhirnya mereka meminta bantuan Polisi untuk datang memaksa ibu tersebut untuk membuat pernyataan meminta maaf baik tertulis maupun dimedsos.

Setelah dating oknum Polisi tersebut, dengan berbagai dalih dan ancaman berupa keterangan beratnya hukuman membuat pencemaran nama baik di Medsos, akhirnya ibu tersebut membuat pernyataan karena merasa takut dipenjara dengan hukuman yang katanya sangat lama. Hingga turunnya berita mala mini, oknum Polisi bernama Harold belum dapat dihubungi terkait perannya dalam perkara laporan oknum VBK di Polsek Toluaan. **Vea.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed