oleh

Oknum JK Hukum Tua Ranoketang Atas Diduga Gelapkan Bantuan Desa

Ratahan – Tabloidjejak.co.id. Hukum Tua Ranoketang Atas oknum JK diduga kuat banyak melakukan penyimpangan dan penggelapan dana batuan. Entah berupa pengangkatan kroninya sebagai anggota BPD yang diduga berijazah palsu, juga diduga melakukan penggelapan bantuan, maupun proyek desa.

Menurut sumber yang tak mau menyebutkan namanya kepada tabloidjejak.co.id, bahwa berbagai penyimpangan yang memang sudah menjadi bahan cerita ditengah-tengah masyarakat, menjadi jelas dan telanjang, saat melakukan pertanggungjawaban dalam musyawarah masyarakat desa yang dihadiri seluruh kelengkapan pemerintahan desa, tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat umum.

Hukum Tua terpilih oknum JK yang juga mantan Hukum Tua Ranoketang Atas pada forum Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Desa, menjelaskan bahwa beberapa bantuan pemerintah seperti : Dana Keserasihan sebesar 96 jutaan, kemudian dana bantuan Sanggar seni  60 juta serta Dana Desa, sudah direalisasikan secara patut.

Namun memasuki ruang koreksi public, berbagai pertanyaan yang dilontarkan beberapa anggota masyarakat terkait realisasi bantuan Dana Keserasihan maupun Dana Sanggar Seni yang tak dapat ditunjukkan bentuk realisasinya, Hukum Tua tak dapat menjelaskan secara rinci. Sampai karena terdesak, Hukum Tua akhirnya mengakui bahwa dana keserasihan hanya diterima 62 juta. Sementara selisih dana tersebut tak dapat dipertanggungjawbakan oleh Hukum Tua.   

Demikian juga soal bantuan Sanggar Seni juga tak bisa dijelaskan Hukum Tua secara rinci, hanya dengan berdalih telah dibelikan peralatan seni, yang saat itu, tak dapat diperlihatkan kepada masyarakat, dengan menyatakan peralatan seni ada dirumah, sehingga kuat dugaan dana tersebut telah digelapkan, karena peralatan yang dimaksud tak sampai ditangan ketua Sanggar Seni desa.

Sementara pengakuan sumber pejabat di Kecamatan Touulaan, menyatakan untuk bantuan dana keserasihan, sebenarnya berjumlah 150 juta rupiah. “Namun realisasi atas proyek bantuan Dana Keserasihan hingga kini tidak terlihat seperti apa benda misterius tersebut,” ujar sumber.

Demikian juga sumber desa Ranoketang Atas kepada tabloidjejak.co.id menyatakan soal pembangunan yang bersumber dari dana desa, seperti pembangunan lampu jalan yang berjumlah 12 tiang, tidak berlaku sebagaimana mestinya. Soalnya, pengadaan dari 12 tiang tersebut, 4 tiang hanya diambil dari tiang telepon yang tidak lagi terpakai didesa. Kuat dugaan tiang tersebut dicuri, sementara 10 tiang lainnya, tidak jelas berasal dari mana dengan dugaan harganyapun dimurk up. Sebenarnya, cukup banyak penyimpangan yang dilakukan Hukum Tua tersebut, namun kami belum mau mengungkapkan keseluruhan perbuatannya, “mengingat yang sama pentingnya ini dulu yang akan kami informasikan untuk diberitakan, menyusul informasi lainnya yang akan kami sertai laporan ke-Instansi hukum terkait,” urai sumber tersebut. V/D **

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed