oleh

Menguak misteri Siapakah Perusak Makam dan Pencuri Tulang Belulang Kel Dotu Baginda BPJN XV Manado ataukah Perskimtan Prov. Sulut ?

MANADO – Tabloidjejak.co.id. Perusakan makam dan pencurian tulang belulang milik Kel. Dotu Baginda yang diduga terkait dengan pembangunan jalan Boulevard II, yang kini memasuki wilayah Molas, kini terjadi tarik ulur antara pihak BPJN XV dan Perskimtan Prov. Sulut tentang siapa yang bertanggungjawab.

Ketika keluarga Dotu Baginda mendapati makam keluarga mereka telah dirusak dengan melakukan penggalian atas sejumlah kubur yang ada di makam keluarga mereka, termasuk hilangnya tulang belulang dotu keluarga mereka, maka Asnat baginda mencoba melakukan penelusuran dan diperoleh informasi bahwa suatu waktu ada pembersihan lahan yang dilakukan oleh pihak BPJN XV Manado yang dipimpin Kelly Pangerapan.

Tentunya kuat dugaan dari pihak keluaraga Dotu Baginda, bahwa yang melakukan pengrusakan dan pencurian adalah pihak BPJN XV. Namun ketika hal tersebut dikonfirmasi oleh Babe Asnat Baginda ke Kelly Pangerapan sebagai pengawas, dia membantah bahwa pihaknyalah sebagai pelaku pengrusakan dan pencuriaan.

Kelly kemudian menjelaskan, bahwa ketika pihaknya melakukan pembersihan ketika itu sekitar bulan April 2020, sejumlah makam yang ada tidak disentuhnya sama sekali. “Bahkan saya waktu itu membuat blok untuk memastikan makam tersebut aman, hingga saya dipindahkan, perkembangannya setelah itu, saya tidak tahu, ” urai Kelly pada Babe Baginda melalui Hp 08114350xxx.

Babe Baginda kemudian menceritakan, memang ketika itu PPK Windu akan memulai pekerjaan usai pembersihan itu dari wilayah dimana makam itu ada, namun pihaknya menolak. “Mungkin karena penolakan itu, pihak BPJN XV meminta pihak Pemprov. Sulut untuk menyelesaikan soal pengadaan lahan yang menjadi tanggungjawab Pemprov. Sulut, maka berlanjut keupaya penyingkiran makam secara tidak patut melalui pembongkaran dan pencurian tulang belulang dengan tanpa sepengetahuan pihak pemilik Makam Keluarga Dotu Baginda,” duga Babe Baginda.

Prosesi penggalian kubur dan pengangkatan tulang belulang tersebut, menurut Camat Bunaken Boyke Pandean, Sos yang ditemui di kantornya Kamis, (26/8/2021) membenarkan dilakukan pada tanggal 15 September 2020 yang juga dihadiri pihak kepolisian dan pihak instansi tertentu lainnya yang saya tidak hafal. “Entah apakah juga dihadiri oleh keluarga pemilik makam, saya tidak tahu,” tandasnya.

Ketika ditanyakan terkait apakah Camat menjadi salah satu unsur terkait dalam proses pengadaan lahan, menurutnya, saya tidak pernah dilibatkan, “kehadirannya ketika itu hanya sebagai terundang, sebagai pemimpin wilayah di Molas mungkin,” akunya.   

Sebagaimana penjelasan pihak dari Perkimtan Prov. Sulut, bahwa ketentuan yang berlaku untuk pengadaan tanah untuk suatu proyek, melalui 4 tahap dan melibatkan BPN, Instansi terkait, termasuk Camat hingga Lurah atau Kepala Desa. Dari fakta ini, ternyata tidak sesuai keterangan pihak Perkimtan Prov. Sulut.

Saya sudah capek bolak balik meminta siapa yang bertanggungjawab terkait pengrusakan dan pencurian tulang belulang, baik kepada pihak Perskimtan Prov. Sulut maupun BPJN XV. “Hingga kini belum ada yang mau mengakui dan bertanggungjawab atas pengrusakan makam dan pencurian tulang belulang milik keluarga dotu Baginda,” tandas babe Baginda.

Tapi bukan berarti perjuangan kami sampai disini, saya akan terus berjuang hingga semua terang benderang dan membongkar siapa yang menyuruh dan bertanggungjawab atas pengrusakan makam dan pencurian tulang belulang dotu keluarga Baginda.

Sementara ini, kami sudah melaporkan ke Polresta Kota Manado, namun tidak jelas penanganannya, sehingga harus memaksa saya melangkah lebih jauh ke yang lebih tinggi. Saat ini kami juga sudah melaporkan ke Polda, tinggal menunggu sampai sejauhmana penyelesaiannya,” urai Babe Baginda. ***

Peliput : Henry, Hein & Prasetyo    

Editor : Henry

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed