oleh

Kepala Suku Andio Dan Lembaga Adat Menolak Eksploitasi Nikel Di Kecamatan Masama

LUWUK – TabloidJejak.co.id. Rencana eksploitasi tambang nikel di Kecamatan Masama menuai konflik dan berujung pada penolakan. Hal ini diungkapkan Kepala Suku Andio yang juga sebagai Ketua Lembaga Adat Kecamatan Masama Rahmad Djalil belum lama ini. Dikatakannya, eksploitasi pertambangan nikel yang akan dilaksanakan oleh PT. Bumi Persada Surya Pratama seluas 9000 Ha di Desa Simpangan Kecamatan Masama, dikarenakan lokasi yang dimaksud adalah dearah aliran sungai atau DAS, yang akan berdampak pada bencana banjir dan kemudian mengorbankan daerah pertanian, dimana mayoritas masyarakat Kecamatan Masama adalah para petani. Eksplotasi tambang nikel sambung Mat Djalil sapaan akrab Kepala Suku andio ini, hanya menguntungkan tenaga kerja yang berasal dari luar daerah dengan upah yang sangat tinggi dengan alasan skil dan non skil, hal ini yang kemudian dikhawatirkan akan memicu konflik sesama pekerja nantinya. Mat Djalil menambahkan, mengutip pasal 33 ayat 3 yang mana dikatakan bumi dan kekayaan didalamnya adalah untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk menyengsarakan rakyat. Paparnya. Sungguh aneh bila pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebut Mat Djalil, yang mengatakan bahwa sosialisasi rencana eksploitasi nikel tersebut adalah instruksi dari Presiden Jokowi. Bukankah Presiden Jokowi sangat melindungi hak petani?, bukankah dalam masa pandemi seperti sekarang ini digalakan ekonomni kreatif? Tanya Mat Djalil dengan nada marah. Mat Djalil juga menyesalkan, saat sosialisasi terkait tambang nikel yang difasilitasi oleh Camat Masama dengan menghadirkan Forkopincam, Kades dan DLH serta unsur perusahan, namun Ketua Lembaga Adat Kecamatan Masama tidak diundang, padahal UUD 1945 mengamanatkan untuk melindungi hak – hak adat. Sebutnya. Masih menurut Mat Djalil, warga Kecamatan Masama sebagai masyarakat agraris sudah sangat hidup layak tanpa pertambangan nikel. Kemudian ketika aktifitas pelabuhan pengangkutan tambang nikel, tentunya juga berdampak pada pencaharian nelayan Masama yang terdiri dari nelayan pancing, rompong dan bagan. Olehnya itu saya sebagai Kepala Suku Andio yang juga sebagai Ketua Lembaga Adat Kecamatan Masama, dengan ini mengatakan menolak dengan tegas akan rencana eksploitasi tambang nikel diwilayah Kecamatan Masama. Dengan tegas Dia juga mengatakan, tidak ada ruang pertambangan nikel wilayah Kecamatan Masama, karena bertentangan dengan norma hukum dan juga berdampak lansung pada irigasi yang merupakan sumber air bagi  ratusan hektar persawahan. Nikel sebut Mat Djalil, bukanlah objek vital Nasional, kenapa kemudian harus dipaksakan?. Jangan jadikan warga Masama kemudian menjadi buruh tambang dinegerinya sendiri. Kita semestinya mengambil pelajaran pada kehancuran alam di Morowali dan Konawe, kami sebagai warga Masama tidak ingin hal yang terjadi baik di Morowali maupun di Konawe menimpa warga Masama. Saya sendiri yang akan memimpin demo penolakan pertambangan Nikel di Wilayah Kecamatan Masama. Sejak tahun 1982 Masama adalah merupakan lumbung pangan di Kabupaten Banggai, dengan tidak adanya pertambangan nikel masyarakat tidak akan kwatir  Papar Mat Djalil.  (Muis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed