oleh

Kelly Pangerapan : Ada Makam di Lahan yang Dibersihkan untuk Proyek Jalan Boulevard II BPJN XV Manado

MANADO – Tabloidjejak.co.id. Bila pihak yang mengaku pemilik lahan yang telah dibebaskan oleh Dinas Perskimtan Prov. Sulut, sebagaimana juga ditegaskan Kadis Perskimtan tidak ada makam, dengan berpegang pada pengakuan pemilik lahan, bahwa dilahan tersebut tidak ada makam dengan sejumlah kubur yang ada, namun pihak Pengawas BPJN XV Manado mengakui adanya makam dilahan tersebut.

Akibat perbedaan pengakuan tersebut, kini polemic makam leluhur dotu keluarga Baginda bergulir makin panas. Ditengarai pihak Perskimtan Prov. Sulut tidak awas melakukan penelitian dan pemeriksaan lahan yang akan dibebaskan, sehingga terjebak pengakuan sepihak dari keluarga Herman Taneng yang diduga telah memberikan keterangan palsu.

Kelly Pangerapan yang merupakan pengawas dari BPJN XV Manado, yang menemukan adanya makam tersebut, sehingga dia tidak menyentuh makam tersebut dan membuat blok, agar aman. Namun fakta yang diiperoleh babe bBaginda, bahwa sebagian kubur yang ada dimakam dotu keluarga baginda, sudah ada tergusur karena pembersihan yang dilakukan oleh pihak BPJN XV Manado. “Pengrusakan makam, telah dilakukan pihak BPJN XV Manado, walau tidak diakui Kelly,” tandas Babe.

Terbongkarnya adanya kuburan yang sebelumnya mati-matian ditolak Dinas Perskimtan Prov. Sulut dengan berpegang pada pengakuan keluarga Herman Taneng, setelah dilakukan penelitian secara mendalam, akhirnya, diduga secara terburu-buru dibuat prosedur pemindahan lahan, dengan melahirkan SK Gubernur No 222 tahun 2020.

Padahal soal adanya makam dilahan tersebut, sebagaimana hasil penelusuran Tim SiPERS Grup, baik diseberang sungai ditempat kini dimulainya pekerjaan proyek, mupun didaerah Molas, beberapa masyarakat yang ditemui, mengakui makam tersebut, sudah sejak dulu memang benar-benar ada. “Kayaknya itu makam tua,” tandas salah seorang yg tak mau menyebutkan namanya.  

Dari polemik ini, diduga ada konspirasi pihak tertentu, yang mencoba memanfaatkan situasi dengan menghilangkan makam tersebut disatu sisi, sementara disisi lain, setelah ketahuan masih berupaya mencari kesempatan untuk memanipulasi prosedur kepatutan merealisasikan rangkaian pemindahan makam, yang kuat dugaan fiktif alias direkayasa dimana realisasinya, tidak sesuai SK No 222 tahun 2020, tentang Pembentukan dan Penetapan Panitia Pemindahan Makam yang terletak di Lokasi Pembangunan ruas jalan Provinsi Boullevard II.

Dimana menurut Babe Asnat Baginda, bahwa realisasi SK No. 222 tahun 2020, yang uraianya salah satu menjelaskan melakukan pertemuan dengan pihak keluarga leluhur Dotu Baginda, tidak pernah dilakukan dengan pihak kami. Dari sini saya juga menduga, bahwa Surat Keputusan ini, lahir setelah bermasalah, sehingga beberapa point tidak sesuai fakta.   

Sepatutnya, kalau ada pertemuan, mereka harus menanyakan dan meminta persetujuan keluarga. “Nanti  berdasarkan rembuk keluarga, terkait pemindahan kubur tersebut disuatu lokasi tertentu, baru dilakukan penggalian dan pemindahan kubur, dengan mengikuti tata cara kami,” tandas babe.

Tapi ini, tanpa sepengetahuan dan seizin keluarga, mereka malah main bongkar kubur dan mencuri tulang belulang dotu keluarga Baginda, entah dibawa kemana. “Sampai hari ini, kami tidak mengetahui keberadaan tulang belulang dotu Keluarga kami, “ jelas Babe.

Terkait dengan adanya pengakuan makam oleh Kelly Pangerapan pengawas BPJN XV Manado, yang kemudian Kelly tidak menuntaskan secara penuh seluruh perintah pembersihan lahan yang akan dijadikan proyek Jalan Boulevard II. Ditengarai tidak tuntasnya kerja Kelly, menjadi pemicu hingga Kelly ditendang sebagai pengawas proyek, walau proyek tersebut baru dimulai.

Indikasi ini, tercermati dariadanya upaya Pak Windu sebagai PPK proyek tersebut yang diduga mencoba memaksa agar proyek segera dimulai dari lokasi yang kini menjadi polemic serius terkait pengrusakan makam dan pencurian tulang belulang milik leluhur dotu Baginda, namun ditolak kel. Baginda.

Karena ditolak, diduga pak Windu ngotot menebas perjuangan keluarga pemilik lahan leluhur Baginda, dengan menghadirkan kelokasi proyek tersebut seorang Kombes dari Polda. Dimana menurut keluarga Baginda, sebagai upaya untuk menakut-nakuti dan atau menekan perjuangan mereka.

Bahkan menurut babe Asnat Baginda, bahwa ada informasi, bila pembangunan proyek tersebut akan diteruskan dengan cara paksa, apabila ada pihak yang menghambat jalannya pekerjaan proyek tersebut. “Diduga akan menurunkan kekuatan tertentu,” tandas Babe. “Tapi kami akan terus berjuang, karena ini sudah sangat melecehkan leluhur dan keluarga,” tandas babe. ***

Peliput : Henry, Hein & Prasetyo

Editor  : Henry       

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed