oleh

Kelalaian Pengawasan & Rendahnya Keamanan Kerja Pembangunan Islamic Center Disorot LPKP-K

BOROKO – Tabloidjejak.co.id. Pembangunan gedung Islamic Center yang berada di daerah Kabupaten Bolaang Mongonow Utara, tepatnya di Ibu Kota Boroko, saat ini sedikit mengundang keprihatinan bagi beberapa pemerhati pembangunan di daerah dan LSM disana, bahwa tingkat pengamanan buruh/ pekerja tidak diperhatikan oleh perusahaan yang mengerjakannya.

Proyek pembangunan dari Kantor Dinas Perkintan Prov. Sulut berbandrol Rp.4. 965.254.641,15, tersebut dikerjakan oleh pelaksana CV. Deo Viktory. Sementara proyek tersebut anehnya, tidak memiliki konsultan sebagai pengawas pekerjaan, sehingga kuat dugaan pengerjakan tersebut, nampak terlihat dikerjakan seenaknya.

Proyek yang dikerjakan dengan petunjuk melalui papan proyek tanpa identitas Konsultan tersebut, dikerjakan tanggal 11 September 2021, dengan lama waktu pelaksanakan sekitar 120 hari kalender kerja, inipun, dibiayai oleh APBD Provinsi tahun anggaran 2021.      

Saat wartawan Tabloidjejak.co.id mencoba menelusuri penanggungjawab proyek Islamic center tersebut, tidak ada sumber yang dapat diperoleh siapa PPKnya dan siapa pengawas/ konsultan yang bertanggungjawab atas pengerjaan proyek tersebut. “Apalagi, seluruh pekerja tanpa menggunakan alat pelindung yang dapat menjamin keamanan pekerja, bahkan diduga perusahaan tidak memasukkan BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Fadly Alamri, selaku ketua LEMBAGA PENGAWAL KEBIJAKAN Pemerintah DAN KEADILAN (LPKP-K) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Senin (1/11/2021).

Atas tidak adanya rasa tanggungjawab dari pelaksana CV. Deo Viktory dan Dinas Perkintan Prov. Sulut, termasuk tidak menyediakan Konsultan/ pengawas yang sepatutnya bertanggungjawab atas pekerjaan dan keselamatan pekerjanya, Fadly meminta, agar pihak terkait mengambil tindakan hukum serta menghentikan pekerjaan tersebut, sampai pekerjaan tersebut memenuhi ketentuan yang diatur berdasarkan aturan yang berlaku.  

Fadly juga sangat menyayangkan, atas dinas Perkimtan Prov. Sulut yang tidak melakukan pengawasan atas para pekerja yang tidak memakai standar keselamatan kerja atau Alat Pelindung Diri (APD) di pembangunan Islamic Center, dengan tidak memikirkan masa depan pekerja. “Padahal K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja) sangat penting di terapkan di pembangunan proyek apapun, guna mengurangi resiko pekerjaan,” tandas Fadly lebih lanjut.

Alat Pelindung Diri (APD) ini, merupakan alat bantu perlindungan diri untuk meminimalisir dan mencegah terhadap resiko yang ditimbulkan saat melakukan pekerjaan. “Penggunaan APD merupakan suatu kewajiban yang harus diikuti oleh para pekerja yang punya bahaya, yang dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja maupun Penyakit Akibat Kerja ( PAK ),” tegas Fadly Alamri yang dikenal sangat getol memantau berbagai pekerjaan yang ada di Bolmut.

Beberapa sumber di lokasi pekerjaan yang coba dikonfirmasi, termasuk pihak perusahaan, justru menyarankan agar meminta penjelasan pada security. “Pernyataan pihak perusahaan yang nampak tidak bertanggungjawab ini, nampaaknya pandang enteng pada wartawan Tabloidjejak.co.id,” keluh Ka. Biro Tabloidjejak Bolmut.   

Fadli Alamri pria murah senyum, yang biasa disapa Andiling ini berharap, agar Pemerintah Provinsi Sulawesi utara, melalalui Dinas Perkintan, agar mengoreksi kembali pekerjaan tersebut, baik perencanaannya, palasanaannya oleh perusahaan CV. Deo Viktory, pengawasannya, termasuk jaminan keamanan pekerjanya, sebab dalam waktu dekat, pihak LPKP-K akan melayangkan surat peringatan terkait pelaksanaan proyek tersebut yang mengabaikan segala ketentun yang berlaku,” tandas pria murah senyum ini, namun tegas dalam melakukan pengawasan. ***

Peliput : Fadly

Editor : Henry Peuru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed