oleh

Demo Pemalsuan Dokumen Hukum Tua Tondey Satu Lapor Pencemaran Nama Baik

MINSEL – Tabloidjejak.co.id. Terkait demo masyarakat desa Tondey Satu Senin, (29/6-2020), menurut Hukum Tua Nita Lumapouw menyatakan, bahwa saya sebagai Hukum Tua telah melaporkan pencemaran nama baik Pemerintah Desa Tondey Satu ke Polres Minsel.

Ketika cecaran pertanyaan diajukan terkait dugaan adanya pemalsuan dokumen LPJ, Hukum Tua menyahut dengan menyebut nama Rul Mantik beberapa kali, sambil menyampaikan saya sudah sampaikan semuanya kepada Rul Mantik.

Tim Tabloidjejak.co.id, lantas menyatakan siapa itu Rul Mantik dan sebagai apanya Hukum Tua di desa ini. Namun hanya dijawab masa tidak kenal Rul Mantik dia wartawan, sambil meminta menunggu Rul Mantik. Begini bu kami tidak ada urusan dengan dia, kami hanya ingin penjelasan terkait beberapa permasalahan yang di sampaikan sumber demo yang menjadi viral dimedsos,” jelas saya sebagai pemimpin Tim.

Hukum Tua Nita Lumapouw Kakak dari Kadis PMD Kab. Minsel, lantas berteriak-teriak kearah samping rumahnya memanggil Maikel Sumarauw agar segera datang. Tak lama kemudian Sumarauw datang dan meminta kami bersama duduk di kursi tamu yang berada di depan teras rumah didampingi Hukum Tua dan seorang Ibu yang memotret dan membuat vidio, “yang mungkin wartawati yang mewakili Rul Mantik, untuk melakukan kontra reportase,” duga kami.

Kasie Pelayanan Maikel Sumarauw, lantas meminta apa yang bisa dijelaskan terkait kedatangan bapak-bapak,” tandasnya. Kamipun menjelaskan bahwa kami ingin meminta keterangan terkait sumber demo yang viral dimedsos beberapa waktu lalu.

Sumarauw lantas menjelaskan dengan semangat, bahwa demo sekelompok orang yang dimotori Hanly Mokogibung sebagai ketua BPD, adalah perbuatan yang salah telah mencemarkan nama baik Hukum Tua. Sebab itu, kami telah melaporkan ke Polres Minsel.

Selanjutnya Sumarauw menegaskan, bahwa alasannya, setiap demo harus didahului dengan pemberitahuan dahulu kepada aparat keamanan. Namun, begitu dimintai penjelasannya seperti apa dan aturan mana yang menyebutkan demikian, Sumarauw menyatakan, saya hanya mendengar dari Polisi.

Kami 5 aparat desa mendampingi Hukum Tua telah melaporkan ke Polres Minsel. Dimana  saudara ketua BPD dan kawan-kawan sebagai terlapor yang telah mencemarkan nama baik Hukum Tua, berbeda dengan keterangan hukum Tua sebelumnya, yang menyatakan pencemaran nama baik Pemerintah Desa Tondey Satu.

Sementara ketika ditanyakan seperti apa perbuatan terlapor yang telah dicemarkan oleh terlapor dan kawan-kawan, Sumarauw tidak dapat menjelaskan lebih jauh, dengan menyatakan silahkan konfirmasi ke Polisi, yang diiyakan Hukum Tua.

Ketika dimintai penjelasan terkait penggunaan Cap BPD dalam dokumen LPJ desa yang tidak pernah diketahui keberadaannya oleh Ketua maupun Sekertaris BPD. Sumarauw menyatakan bahwa yang buat adalah Bendahara Desa atas permintaan wakil Ketua BPD pak Herry.

Setelah itu, Cap tersebut diserahkan, dan kami hanya memakai setelah LPJ. Namun sedikit bingung, kemudian dijelaskan habis pakai langsung dimusnahkan. Ketika dikejar terkait kenapa dimusnahkan, mengingat Cap tersebut harus dimanfaatkan oleh BPD dalam berbagai kegiatan lainnya dan bukan hanya untuk kebutuhan LPJ saja, Sumarauw nampak bingung dan mengalihkan pembicaraan, pak, mohon catat dulu nama dan medianya dibuku tamu kami.

Bahkan Hukum Tuapun langsung berdiri meminta agar kami mencatat nama dan media kami. Anak buah saya langsung mencatat nama dan media kami. Selanjutnya wawancara dilanjutkan, dimana Sumarauw lantas menjelaskan bahwa LPJ tersebut sudah beberapa kali diminta dan selalu kami berikan.

Ketika dinyatakan berarti sudah banyak LPJ yang ada pada mereka, lagi-lagi Sumarauw mengoreksi bahwa 2 kali yang mereka meminta dan kami berikan. Dan setiap ada Musyawarah Desa, ketua BPD dan yang lainnya, kadang tidak hadir, dan bahkan kalaupun hadir, mereka hanya sebentar dan memberi alasan akan pergi kebun.

Usai mendengar penjelasan yang mulai tidak terarah dan kurang terang dan merasa sudah cukup mendengar apa saja yang dijelaskan Sumarauw, kami lantas pamit diri. Namun Sumarauw meminta menunggu sebentar untuk minum Kopi, tetapi tawaran tersebut kami tolak karena merasa sudah sore dan harus segera kembali.***

Peliput : Jantje & Henry

Editor  : Henry            

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed