oleh

Bank SulutGo Dililit Berbagai Masalah

MANADO. Tabloidjejak.co.id – Bank SulutGo yang merupakan asset daerah, ternyata tak serius dipelihara dan dikembang untuk menunjang dan menjadi garda terdepan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat Sulut Gorontalu khususnya dan pembangunan ekonomi Sulut Gorontalo umumnya.

Pasalnya, dalam perjalanan waktu Bank SulutGo beroperasi, bukannya terus memperlihatkan perbaikan kinerjanya, namun terus memperlihatkan buruknya tata pengelolaan, sehingga terus terperosok keberbagai kejadian yang cenderung menjadi alat kepentingan tertentu.

Buktinya, pada tahun 1996 diera Bank SulutGo masih sebagai Bank Sulut yang dilakoni Direktur Utama Kaligis, terjadi pembelian Commercial Paper bodong, hingga menyebabkan Bank SulutGo mengalami kerugian besar dan menjerat Kaligis dan Oscar Pangemanan harus mendekam dalam penjara.

Kini Bank SulutGo, tidak lagi bisa dibanggakan sebagai Bank kebanggan daerah. Pasalnya, Bank SulutGo tinggal memiliki saham pemerintah daerah sebesar 76 %, setelah masuknya saham Mega Corporate sebesar 24 % ditahun 2012. Akibatnya, sempat mengundang KPK untuk diperiksa terkait masuknya Mega Corporate.

Tak berhenti nyosornya Mega Corporate diselundupkan masuk ke Bank SulutGo, ditahun 2015, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan dana panjar sebesar 6 milyar yang diterima oknum kepala daerah, oknum lembaga auditor, oknum aparat hukum, oknum LSM dan oknum wartawan, sehingga OJK merekomendasikan agar dikembalikan dana tersebut ke Bank SulutGo.    

Akibatnya kepercayaan masyarakat yang terus menurun, tahun 2015, Pemda Minahasa Tenggara memindahkan rekening kas daerahnya ke BRI. Kondisi ini membuat Bank SulutGo, harus kerepotan menagih kredit ratusan miliyar dari ASN Pemda Minahasa Tenggara. 

Berbagai kasus besar kembali mendera Bank SulutGo. Tahun 2017, berdasarkan hasil audit BPK, disebutkan terdapat kerugian Negara sebesar 160 milyar, akibat pembelian SUN (Surat Utang Negara) yang melorot nilai jualnya. Ditengarai keputusan pembeliannya, pada suasana tidak menarik saat Bank SulutGo sedang mengalami kesulitan likuiditas.

Ditahun yang sama, Bank SulutGo harus mengalami kasus kredit macet yang membuatnya kian mengundang ketidakpercayaan masyarakat. Kredit macet puluhan miliyar terjadi di Kacab Boalemo, Kacab Limboto dan Cabang pembantu Telaga di gorontalo, akibat permainan orang dalam.

Sementara ini, kasus uang tantim sebesar 13 Miliar tahun buku 2016, yang diperuntukkan -atas hasil keuntungan sebasar 160 M- bagi Direksi dan Komisaris sesuai kinerja mereka, kini terus bergulir antara manajemen lama yang menduduki jabatannya 9 bulan dengan manajemen baru yang baru menduduki jabatannya selama 3 bulan. Dimana manajemen baru, dituding telah mengembat tantiem yang sepatutnya diperuntukkan kepada manajemen lama.

Tudingan dana tantiem milik Direksi dan Komisaris lama yang dinilai sebesar 9,7 Miliar tersebut, kemudian dilaporkan ke Polda Sulut. Namun hingga kini laporan tersebut belum jelas kelanjutannya. Ditengarai sudah dilakukan langkah tertentu oleh pihak terlapor.   

Sementara 7 orang dari 9 orang Direksi dan Komisaris Bank SulutGo, kemudian melakukan gugatan perdata, terkait Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan oleh Direksi dan Komisaris baru Bank SulutGo di PN. Manado. Namun gugatan I ditolak dengan amar putusan karena tidk menarik turut tergugat notaries yang terlibat dalam mengikat persetujuan tersebut.

Tak patah arang, mantan kelompok Direksi dan Komisaris Bank SulutGo ini, kembali melakukan gugatan ke-II, setelah memperbaiki gugatan lamanya dengan menarik Notaris penggantinya, disebabkan notaries yang lama telah meninggal. Sambil menunggu penanganan hukum atas laporan penggelapan dana tantiem yang dilakukan oleh Direksi dan Komisaris Bank SulutGo yang saat ini sedang memimpin Bank SulutGo di Polda Sulawesi Utara, kini gugatan ke-II terus berlangsung. Berbagai sumber. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed