oleh

8 Tahun Tumbuan Komplein Penyerobotan Politeknik Pelayaran Acuh

Amurang – Tabloidjejak.co.id. Komplein berulang secara lisan pihak keluarga Tumbuan atas pembangunan Sekolah Pelayaran Sulawesi Utara (kini Politehnik Pelayaran Sulawesi Utara) yang telah melewati batas kesepakatan yang dilakukan Pemerintah Daerah Kab. Minahasa Selatan tak pernah diindahkan pihak kontraktor yang mengerjakan Pembangunan Sekolah Pelayaran milik Kementerian Perhubungan Dirjend Perhubungan Laut.

Melihat gelagat buruk pihak kontraktor yang tak ambil peduli atas komplein Keluarga Tumbuan pemilik lahan yang dibebaskan oleh Pemda Kab. Minahasa Selatan itu, maka adalah salah satu keluarga pemegang kuasa : Meity Tumbuan lantas mengirim surat yang ditujukan kepada Bupati Minahasa Selatan, meminta perhatiian atas perbuatan pihak sekolah Pelayaran.

Surat tertanggal 10 September 2014 tersebut, meminta agar Bupati Minahasa Selatan dapat meninjau kembali atas luas tanah yang dibebaskan, mengingat tanah yang berlokasi di Moinit Desa Tawaang Timur Kecamatan Tenga untuk pembangunan Sekolah Pelayaran telah terjadi kelebihan tanah dan tidak sesuai dengan kesepakatan pada saat proses pelaksanaan pembebasan.

Tandasan surat Meity Tumbuan, menyebutkan bahwa 1. Luas tanah yang dibebaskan oleh Pemerintah daerah Kabupaten Minahasa seelatan milik Keluaraga Meity Tumbuan CS sesuai dengan kesepakatan diukur dari batas pantai (kelapa dua) kearah selatan. 2. Setelah adanya bangunan pagar, ternyata tidak sesuai dengan pengukuran waktu pembebasan oleh pihak keluarga dengan mengambil dasa pengukuran yaitu dari batas pantai (kelapa dua) sampai keujung pagar bagian selatan, ternyata sudah melebihi dari batas yang disepakati pada saat dilaksanakan pembebasan tanah, dimana dilokasi tersebut saat ini sudah dipagar dengan pagar permanen oleh pelaksanan proyek pembangunan Sekolah Pelayaran.

Menurut Meity kepada tabloidjejaak.co.id, ketika itu kami masih memberi keluasan untuk memberi jalan keluar atas pengambilan lahan secara tiidak benar dengan membayar kelebihan tanah kami sesuai dengan nilai yang telah disepakati, dan mereka berjanji akan menyelesaikannya. Namun hingga kini telah berjalan 8 (delapan) tahun janji-janji yang berulang-ulang mereka sampaikan sampai hari ini tidak pernah mereka realisasikan.

Karenanya, menurut Didi salah satu anak dari ahli waris mengharapkan agar pihak Sekolah Politehnik Pelayaran memperhatikan himbauan ini, karena sudah terlalu lama dan berulang janji manis itu disampaikan. Dan sikap kami Keluarga saat ini, tentunya harus diatur bentuk kesepakatan baru dengan kami atas upaya pihak Politehnik Pelayaran yang secara semena-mena telah mencaplok tanah kami. **        

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed