oleh

15 Pekerja Kapal Listrik Turki Asal Jawa Masuk Minsel

Tenga Minsel – Tabloidjejak.co.id I Respon masyarakat di Sulawesi Utara, terkait penyebaran virus Corona yang telah mendunia dan telah merenggut nyawa terbilang sangat cepat serta aneh, dimana roboh seketika seperti tumbangnya pohon tercerabut dengan akarnya.

Tak heran, virus aneh yang menyebar dari Wuhan kota di China yang memiliki 2 instalasi Laboratorium yang diduga milik Militer China, kemudian menimbulkan spekulasi analisa dari berbagai pakar perang maupun pengamat militer sebagai bocornya percobaan pembuatan bom Biologi.

Lepas benar tidaknya dugaan tersebut, yang jelas virus Corona telah menggoncangkan dunia. Corona yang dikenal sebagai Covid-19 ini, telah merenggut nyawa ribuan bahkan jutaan umat manusia diseluruh dunia, tidak terkecuali Negara raksasa USA yang memiliki kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Technologi tinggi, termasuk Italy Negara terbersih di Eropah dan Iran Negara yang memiliki suhu yang sangat tinggi dimana konon virus Corona tak dapat hidup, toh memiliki angka kematian tertinggi.

Dari berbagai situasi yang melumpuhkan nalar analisis baik dari pendekatan Theologis maupun Akademis, justru membuat kepanikan makin tinggi dan kian meluas. Jakarta dan jawa pun, kini terpapar luas sehingga ditetapkan menjadi zona merah yang kini diwaspadai sedemikian rupa oleh masyarakat Indonesia khususnya Sulawesi Utara, tak terkecuali keluarga sendiri kini harus menolak kehadiran orang Jakarta bila mau pulang kampung.

Himbauan tolak pulang kampung ini, kini disampaikan langsung oleh aparat desa atas nama Hukum Tua disetiap desa khususnya di Kabupaten Minahasa Selatan. Maka adalah kejadian di desa Tawaang Timur yang membuat heboh masyarakat seluruh Tawaang terkait kedatangan 9 pekerja Kapal Listrik Turki dari Jawa Rabu, (6/4-2020) sehingga membuat berbondong-bondong masyarakat Tawaang meminta keluar dari Tawaang Timur.           

Untung tidak terjadi keributan serius di rumah kos pekerja asal Jawa yang ditunggui selama sekitar 1 jam, menunggu tindakan aparat dan satuan tugas khusus Corona yang tidak dapat dihubungi sejak kedatangan gabungan masyarakat Tawaang sekitar jam 10 malam.

Kehebohan itu, dipicu dengan bertambahnya pekerja yang sebelumnya 6 orang telah lebih dating sekitar tanggal 18 Maret 2020. Kini harus kedatangan lagi 4 pekerja sekitar jam 2 siang, dikuti dengan kedatangan 5 orang pekerja pada sore harinya. Hingga jam 11 malam, baru upaya orang yang mendatangkan pekerja dari Jawa ke Minsel tersebut dibawa kerumah saudaranya di Bitung, tanpa didampingi petugas.

Sumber tabloidjejak.co.id yang dihubungi ditempat kos 6 orang pekerja asal Jawa yang telah lolos kerja setelah menyelesaikan masa karantina selama 14 hari, membenarkan bahwa ada 9 orang asal Jawa yang dikirim lagi dengan tenggang waktu berbeda pada Rabu, (6/4-2020) oleh GM bernama Sonny dari PT.  Penta Pratama Manunggal Sejati.

Karena gabungan masyarakat Tawaang dari tiga desa itu, menolak kehadiran mereka, maka oleh salah satu pekerja asal Jawa teman mereka yang lebih dahulu datang, membawa ke Bitung kepada saudara bosnya bernama Robert. Hingga malam itu, belum diketahui, apakah ke-9 orang tersebut ada yang terpapar Covid-19 atau tidak.

Bagaimana dilepas tanpa diketahui oleh petugas satuan khusus Corona Kab. Minsel Kec. Tenga, menurut Hukum Tua Tawaang Timur yang ditemuai di kantor Kec. Tenga, menjelaskan bahwa tidak diketahui apakah mereka dikarantina di Bitung atau bagaimana, belum ada informasi. “Tapi yang jelas, untuk mengantisipasi adanya orang yang tidak jelas asal muasalnya hingga mereka harus terusir dari Tawaang, itu merupakan reaksi masyarakat secara spontan yang tidak bisa kami kendalikan,” ujar Tampi Hukum Tua Tawaang.**

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed