Home / Hukum / Korupkrim / Kriminal / Polhukam

Jumat, 17 Januari 2020 - 12:12 WIB

Humas PN. Amurang Tertutup Soal Kasus Pelecehan Seksual

AMURANG – Tabloidjejak.co.id | Hukum tajam kebawah ternyata bukan cerita bualan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Utara Kab. Minahasa Selatan kota Amurang. Nasib naas yang menimpa seorang anak usia 7 tahun, sebut saja Bunga, bertempat tinggal di Kelurahan Buyungon Amurang, digerayangi seorang kakek : Jo D berusia sekitar 74 tahun, sehingga alat vitalnya mengalami luka sobekan, terus dipermainkan hukum.

Humas PN. Amurang yang dihubungi tabloidjejak.co.id beberapa waktu lalu, tidak mau memberikan keterangan terkait dugaan adanya penyimpangan hukum yang dialami korban seksual anak dibawah umur, terkait pelaku opa Yo yang berstatus tahanan rumah yang begitu leluasa berkeliaran diluar rumah selama 7 bulan ini, sesuai masa waktu lahirnya putusan KASASI, terhitung sejak putusan Pengadilan Negeri Amurang tanggal 17 Juni 2019.

Kini dibulan Januari tahun 2020 ini, kembali oma korban kembali mendatangi PN. Amurang dan Kejaksaan Negeri Amurang, mengeluhkan pelaku yang masih terus berkeliaran diluar rumah, hingga membuat rasa was-was keluarga. Sebelumnya, oma korban telah berkali-kali mengeluhkan baik di Pengadilan maupun kepada jaksa, namun tidak digubris.

Peristiwa perbuatan kakek bejat tersebut, orang tua Bunga lantas melaporkan ke Polres Amurang. Sehari kakek tersebut ditahan, usai pemeriksaan oleh penyidik Polres Amurang, anehnya, pelaku langsung dilepaskan, dengan alasan sakit, urai ibu korban kepada wartawan Tabloidjejak.co.id.

Kepada Jejak, ibu Keintjem menceritakan awal kejadiannya, ketika dia melihat ada sesuatu yang lain dari biasanya atas perilaku cucunya, yang terlihat takut dan pucat, dia kemudian memanggil cucunya dan menanyakan apa yang sudah terjadi padanya. Dengan menangis cucunya menceritakan apa yang dilakukan opa Yo kepadanya.

Menurut Ibu Keintjem, proses pemeriksaan di Polres Minsel, berlangsung kurun waktu selama 3 bulan, baru dinaikkan ke Kejaksaan Negeri Amurang. Itupun, selama proses pemeriksaan, Ibu tersebut mengalami kesulitan untuk berjuang menuntut rasa keadilan bagi cucunya, karena mengalami tekanan dan ancaman dari pihak korban, “hingga dia harus melaporkan ke Dinas Sosial Minsel bidang anak dan perempuan,” urainya.

Setelah melaporkan ke polisi, anak perempuan dari opa tersebut mendatangi dan memarahinya,dengan mengatakan, itu semua atas perbuatan cucunya. Bahkan dengan nada ancaman, perempuan yang bekerja di kantor dinas Kesehatan Kab. Minahasa Selatan Amurang mengatakan, “nanti torang baku dapa divisum”, tandasnya, urai ibu Keintjem kepada Tabloidjejak.co.id.

Baca juga  Gagal Jegal Elly Lasut Bupati Talaud Akan Dilantik

Terbukti, sesuai ancaman perempuan tersebut, maka hasil visum dari Rumah Sakit Daerah Amurang, bahwa cucunya dinyatakan masih perawan.  Namun, ibu tidak lantas percaya. Soalnya, saya melihat bagaimana cucunya merasa sakit bila buang air kecil. Kejadian tersebut saya ceritakan kepada penyidik untuk meminta visum baru kepada yang lebih berkompeten.

Maka atas permintaan Ibu Keintjem, dengan didampingi seorang Polisi, dilakukan visum ke Rumah Sakit Bhayangkara Tk. III. Dimana sesuai hasil visum et repertum Nomor : R/392/VER/XI/2018/PPT tanggal 6 November 2018 yang ditandatangani dr. Tirza Paparang.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kebidanan : Tampak robekan baru pada selaput dara posisi jam satu, tiga, lima, tujuh dan jam sebelas sesuai arah jarum jam. Tampak lecet pada pada liang vagina pada posisi jam sebelas dan jam enam. Tampak warna kemerahan disekitar kemaluan.

Setelah 3 bulan pemeriksaan ditingkat Polisi, kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan negeri Amurang pada tanggal 24 Januari hingga 28 Januari 2019 dengan jenis tahanan rumah. Sementara hakim pengadilan Negeri Amurang sejak tanggal 28 Janurai 2019 sampai dengan tanggal 26 Februari 2019 jenis tahanan rumah. Kemudian diperpanjang Ketua Pengadilan Amurang sejak tanggal 27 Februari 2019 sampai dengan tanggal 27 April 2019 dengan jenis tahanan Rumah.

Melihat dan menyermati proses hukum yang dialami ibu Keintjem tersebut, menurut beberapa pemerhati hukum di Amurang, bahwa ancaman diatas 5 tahun Kakek tersebut sepatutnya ditahan.  Memang sungguh miris perlakuan hukum kita yang tidak adil bila menyentuh rakyat miskin. “Perlakukan tersebut pasti sudah main uang,” tandas mereka.

Perbuatan asusila kakek tersebut, terjadi pada hari Jumat tanggal 26 oktober 2018 atau setidak-tidaknya pada waktu lain dalam bulan Oktober 2018, bertempat di Kelurahan Buyungon Lingkungan XIV, Kecamatan Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, atau setidak-tidaknya ditempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Amurang.

Usai proses hukum dipengadilan, keluarga korban masih menyimpan duka dan sakit hati baik ibu Keintjem, anak-anak dan cucunya. Betapa tidak, usai menerima hasil putusan, yang terurai didalam surat putusan tersebut, ternyata tidak sesuai hasil pemeriksaan dipersidangan.

Baca juga  Acara HUT Minsel ke 17 Bu CEP Ikut Bersaing Memasak Dengan Peserta Lainnya

Dimana dalam surat putusan atas pemeriksaan korban Nikita Ticoalu, ditulis yang intinya bahwa opa Yo ……..membuka celana korban lalu memegang alat kelamin anak korban.  Padahal berbeda dengan kesaksian korban dipersidangan, anak korban menjelaskan opa Yo memasukkan jarinya kedalam alat vitalnya, sehingga anak korban merasa sakit. Hal tersebut, “ditanyakan berkali-kali oleh hakim,” urai ibu Kaintjem dan cucunya, saat diwawancarai.

Hal lain yang juga menyimpang, adalah upaya manipulasi infomasi umur opa Yo yang sebenarnya sekitar 76 tahun dirubah menjadi 88 tahun. Hal tersebut juga dijelaskan pihak Dinas Sosial yang menangani khusus korban kekerasan anak. Indikasi penyimpangan ini, terlihat dari visum dari RSUD Amurang yang menyatakan masih perawan.

Keputusan pengadilan Negeri Amurang Nomor : 3/Pid.Sus/2019/PN Amr, tertanggal 17 Juni 2019 telah menetapkan hukum badan 5 tahun penjara kepada opa Yo, bahkan putusan berproses banding ditingkat Pengadilan tinggi Manado yang menguatkan putusan PN. Amurang. Hanya yang kini memiriskan kami, “untuk meminta informasi sampai sejauh mana putusan sudah dilaksanakan, mengingat pelaku masih berkeliaran diluar rumah, justru begitu sulit dan tertutup, baik dari Pengadilan maupun di Kejaksaan Negeri Amurang”, tandas ibu Keintjem.

Upaya menelesuri proses hukum yang diduga sarat penyimpangan nampak dipersulit oleh pihak Humas PN. Amurang. Ketika bersua setelah mencatat daftar tamu dan bertemu dengan pihak pidsus anak, pak Erick Humas tak mau memberi keterangan saat diwawancarai  dengan rekaman. Padahal wartawan tabloidjejak.co.id, telah menjelaskan, bahwa rekaman merupakan jaminan kepastian dan kebenaran keterangan bagi wartawan. Demikian juga telah dijelaskan wartawan tidak kebal hukum, demi menjamin kepastian dan kebenaran keterangan. Namun Erick bersikukuh tidak akan memberi keterangan bila menggunakan rekaman.

Atas sikap humas PN. Amurang tersebut, wartawan tabloidjejakpun.co.id, tidak mau mengambil resiko melakukan wawancara tanpa merekam keterangannya. Sehingga upaya mengorek keterangan terkait adanya dugaan penyimpangan proses dan atau diskriminasi hukum, tidak berlangsung.

Beberapa pihak pemerhati hukum di Amurang, serta keluarga yang mendengar apa yang dialami wartawan tabloidjejak.co.id terkait penyimpangan hukum yang mereka alami, menyayangkan sikap humas PN. Amurang. Sehingga menurut mereka, makin kuat dugaan benar adanya permainan dibelakang layar berupa suap menyuap uantuk menyimpangkan hukum. “Yah kalau ditutup-tutupi, pasti ada apa apanya dong,” tandas mereka. Akibat penegakkan hukum yang timpang tersebut, hingga berita ini diturunkan, pelaku yang tidak ditahan masih begitu bebas melakukan ancaman kepada anak dibawah umur tersebut. Bahkan keluarga pelaku ikut melakukan pengancaman kepada keluarga korban,” ungkap ibu Keintjem yang sangat sedih, karena merasa sebagai orang miskin harus mengalami penindasan hukum.**

Share :

Baca Juga

Korupkrim

Kadis PUPR Minsel Berlindung Dibalik TP4D

Korupkrim

Security Halangi Investigasi Replacement Fasilitas Pelabuhan Luwuk

Hukum

Kasintel : Proyek Diawasi Langsung Kejari

Korupkrim

J&T Expres Amurang Lakukan Perbuatan Tidak Menyenangkan

Korupkrim

Oknum JK Hukum Tua Ranoketang Atas Diduga Gelapkan Bantuan Desa

Korupkrim

Proyek Jalan Boulevard Amurang Tahun 2014 Diduga Sarat Korupsi

Korupkrim

Proyek Jalan Provinsi Memilukan

Korupkrim

Misteri Kerugian Negara di Lahan Stadion Klabat